Makna Simbolik Kain Tenun Songke Desa Batu Cermin Manggarai Barat Flores

Authors

  • Putu Suparna (1) Universitas Pendidikan Nasional
  • Theodora Enifrischaty Matur (2) Universitas Pendidikan Nasional

Keywords:

Kain tenun songke Manggarai, interaksi simbolik, warisan budaya

Abstract

Towe Songke atau nae songke merupakan kain tenun khas daerah Manggarai. Kain tenun songke juga biasa di sebut lipa. Kain songke sering dipakai untuk berbagai ritual atau upacara adat seperti saat kelas (kenduri), membuka rending (ladang baru), hingga saat nempung (musyawarah). Kain songke juga dimanfaatkan sebagai belis (mas kawin) dalam upacara adat pernikahan di daerah Manggarai. Disamping itu juga kain tenun songke ini sering dijadikan sebagai selempang tiba meka (selendang atau kain upacara penyambutan tamu). Penelitian ini bertujuan mengetahui makna simbol-simbol dalam tenun songke serta memperkenalkan secara luas keaslian songke sebagai warisan budaya asli daerah Manggarai. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, dengan perolehan data menggunakan metode observasi, wawancara, studi pustaka dan dokumentasi. Data akan dianalisis dengan menggunakan pengumpulan data, reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data melalui metode triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian bahwa fungsi dan makna songke menjadi simbol kesakralan dalam interaksi simbolik yang ditandai dengan penggunaan songke dalam setiap upacara adat di daerah Manggarai dengan penggunaan songke tanpa memandang status sosial. Hal ini ditunjukkan dengan makna yang terkandung dalam masing-masing makna motif songke yaitu motif su'I, motif mata manuk, motif wela ngkaweng, motif wela runu, motif ntala dan motif ranggong bermakna selalu rajin dan selalu jujur dalam melakukan sesuatu. Kain songke diyakini sebagai panduan atau pedoman bagi kehidupan masyarakat daerah Manggarai sekaligus sebagai bentuk menjaga warisan budaya asli daerah Manggarai.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Muhlis, A. (2021). Makna Simbolik Ragam Hias Sarung Tenun Tradisional Desa Ternate. Universitas Muhammadiyah Makassar.

Ansaar, A. (2018). Makna Simbolik Pakaian Adat Mamasa di Sulawesi Barat. Pangadereng: Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial Dan Humaniora, 4(1), 121-135.

Ardianto, E., & Q-Anees, B. (2007). Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Chairul, A. (2019). Kearifan Lokal dalam Tradisi Mancoliak Anak pada Masyarakat Adat Silungkang. Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, 5(2).

Derung, T. N. (2017). Interaksionisme Simbolik Dalam Kehidupan Bermasyarakat. SAPA-Jurnal Kateketik dan Pastoral, 2(1), 118-131.

Digilib. (n. d). Universitas Islam Negri Surabaya.Diakses pada tanggal 23 September 2022. http://digilib.uinsby.ac.id/2958/3/Bab%202.pdf

Firdaus, F., Wasta, A., & Husen, W. R. (2019). Makna Simbolik Kostum Kesenian Jurig Sarengseng di Desa Binangun Kota Banjar. Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni, 2(2), 75-87.

Fiske, J. (2016). Pengantar Ilmu Komunikasi.Yogyakarta: Buku Litera Yogyakarta.

Fitria, F., & Sara, A. (2021). Makna Simbolik Pakian Adat (Kabhantapi) Perempuan Pada Masyarakat Muna di Kecamatan Katobu Kabupaten Muna. Jurnal Penelitian Budaya, 10. http://ojs.uho.ac.id/index.php/JPeB/article/view/17711

George, R. & Jefrey S. (2019). Teori Sosiologi Klasik. Pustaka Pelajar.

Haris, A., & Amalia, A. (2018). Makna dan Simbol dalam Proses Interaksi Sosial (Sebuah Tinjauan Komunikasi). Jurnal Dakwah Risalah, 29(1), 16-19.

Hofman, O., Susanti, N. E., & Sari, Y. I. (2022). Peran Masyarakat dalam Mengembangkan Kain Songke untuk Meningkatkan Kondisi Sosial Ekonomi di Desa Ruis Kabupaten Manggarai. Dinamika Sosial: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, 1(1), 32-38.

Imelda, D. (2020). Fungsi dan Makna Simbolik Tingkuluak Koto Nan Gadang Payakumbuh. Studi Budaya Nusantara, 4(1), 17-33.

Littlejhon, W. E., & Karen, A. (2017). Teori Komunikasi: Theories of Human Communications. Salemba Humanitika.

Misnawati, Y. (2016). Makna Simbolik Kain Songket Sukarara Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat (NTB). Universitas Negeri Yogyakarta.

Morissan. (2013). Teori Komunikasi Individu Hingga Massa. Prenadamedia Group.

Mubin, I. (2018). Makna Simbol atau Motif Kain Tenun Khas Masyarakat Daerah Bima di Kelurahan Raba Dompu Kota Bima Propinsi Nusa Tenggara Barat. Historis: Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah, 1(1), 21-24.

Mulyana, D.(2010). Komunikasi Lintas Budaya. Bandung: Remaja Rosda Karya

Pareira, D. S., & Livania, S. (2019). Makna Simbolik Kain Tenun Tais Dalam Adat Pernikahan di Timor Leste. Universitas Pendidikan Nasional (UNDIKNAS) Denpasar-Bali.

Rupa, J. N., & Ri’a, M. P. P. (2021). Makna Simbolik Motif Khas Sarung Ende Lio. Jurnal KIBASP (Kajian Bahasa, Sastra dan Pengajaran), 4(2), 251-262.

Severin, W. J., & Tankard, J. W. (2005). Teori Komunikasi Sejarah Metode dan Terapan di dalam Media Massa. Prenada Media.

Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta CV.

Tas, J. R., Wartoyo, F. X., & Prasetyo, Y. Songke Dalam Perspektif Sejarah Ekonomi Desa Lenda Kecamatan Cibal Barat Kabupaten Manggarai 2005-2017. Repository STKIP PGRI Sidoarjo.

Wafi, A. A. (2020). Tarian Baris China Di Desa Sanur Kauh Dalam Perspektif Interaksi Simbolik. Universitas Pendidikan Nasional (UNDIKNAS) Denpasar-Bali.

Published

2023-06-02

How to Cite

Suparna, P., & Matur, T. E. (2023). Makna Simbolik Kain Tenun Songke Desa Batu Cermin Manggarai Barat Flores. Jurnal Sinestesia, 13(1), 495–512. Retrieved from https://www.sinestesia.pustaka.my.id/journal/article/view/355

Issue

Section

Articles